Minggu, 13 November 2011

Jangan Pernah Berhenti Bermimpi

Ini artikel ke-2 yang sengaja saya copy dari Bambang Pamungkas :[Official Website]: sebagai inspirasiku juga... Let's Get Started... :D (sok inggris)


Penulis: bepe, 10 August 2011
Beberapa waktu yg lalu, ada salah satu follower twitter saya yg menyampaikan sebuah link berita yg cukup menarik kepada saya. Sebuah artikel yg berisi tentang komentar seseorang terhadap diri saya secara pribadi. Dan harus saya akui, jika saya cukup tertarik dengan link berita itu. Karena orang yg berkomentar dalam artikel tersebut adalah seseorang yg sangat berpengaruh dalam karir saya. Iya, seorang yg sangat saya hormati, baik secara pribadi maupun sebagai seorang atlit profesional (Pesepakbola)...
Orang tersebut adalah Kurniawan Dwi Julianto, seorang pribadi yg secara tidak langsung telah membuat hati saya merasa yakin untuk memilih sepakbola sebagai karir dan jalan hidup. Dalam artikel ini, saya tidak tertarik untuk membahas tentang pendapat Kurniawan mengenai diri saya seperti yg di sampaikan dalam artikel tersebut. Melainkan saya lebih tertarik untuk mengurai saat pertama kali saya bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan orang yg sangat saya idolakan tersebut...
Suatu ketika dimana rasa takut, malu, grogi, semangat, penasaran dan rasa bangga hadir secara bersamaan dalam perasaan saya. Sebuah keadaan yg mungkin juga akan di rasakan oleh kebanyakan orang, saat bertemu dengan idola mereka untuk yg pertama kalinya...
Hahahaha,, sebuah cerita yg mungkin akan sedikit memalukan atau mungkin dapat juga dikategorikan norak, akan tetapi tidak dapat saya pungkiri jika saat itu adalah saat dimana saya menjadi yakin dan percaya dengan sebuah kalimat yg berkata:
"Jangan pernah berhenti bermimpi, karena mungkin suatu saat mimpi kalian akan menjadi kenyataan"...
Maka dari itu jika anda sekalian tidak keberatan, pada artikel ini saya ingin mengajak anda sekalian untuk sedikit terbang kembali ke masa lalu, kembali ke masa 12 th kebelakang tepatnya di th 1999. Yaitu saat pertama kali saya bertemu dengan seorang Kurniawan Dwi Julianto secara langsung. Di sebuah hotel, dalam sebuah pemusatan latihan bersama tim nasional Indonesia, di ibukota negara Indonesia - Jakarta...
Dan inilah cerita selengkapnya:
Hotel Atlet Century Jakarta, pada pertengahan bulan juni 1999..
Ketika saya menginjakkan kaki di lobby hotel ini, jam Guess (Palsu) di tangan kanan saya menunjukkan pukul 05:30 WIB di pagi hari. Suasana hotel ini sendiri masih cukup lengang pagi ini, masih belum nampak kegiatan yg cukup berarti di lobby hotel ini. Tanpa basa-basi sayapun segera melangkahkan kaki menuju resepsion untuk melaporkan kedatangan saya serta mengambil kunci kamar saya. Saya ingat betul jika ketika itu, saya mendapatkan kamar di lantai 4 bersama 3 pemain yg lain, pemain -pemain tersebut adalah Agung Setyabudhi, I Komang Putra dan Ali Sunan (Ketiganya adalah pemain dari PSIS Semarang ketika itu)...
Dari keempat penghuni kamar tersebut, saya adalah pemain pertama yg sampai ke pemusatan latihan. Ke tiga pemain yg lain baru datang siang harinya, karena latihan pertama tim nasional baru akan di gelar sore harinya, di Stadion Utama Gelora Bung Karno...
Setelah meletakkan barang dan merebahkan diri sejenak, saya memutuskan untuk pergi ke belakang hotel ini untuk sarapan (Ketupat sayur kaki lima). Saat sarapan itulah saya berjumpa dengan beberapa staff perlengkapan tim yg juga tengah sarapan, dari staff tersebut saya mengetahui jika beberapa pemain ternyata juga sudah bergabung sejak semalam. Diantara pemain tersebut adalah Kurniawan DJ, Rochy Putiray, Bima Sakti dan Widodo C Putra...
Karena Kurniawan adalah senior saya yg sama-sama berasal dari Diklat Salatiga, maka secara etika sudah seharusnya jika saya menghadap atau lebih halusnya menyampaikan kedatangan saya kepada senior saya. Oleh karena itu setelah selesai sarapan, sayapun berinisiatif untuk menuju kamar Senior saya tersebut, yg kebetulan juga berada di lantai 4 tidak jauh dari kamar saya...
Sebelum menuju kamar Kurniawan, saya sempat kembali kekamar saya terlebih dahulu untuk mandi. Karena ini adalah pertama kalinya saya akan bertemu dengan Kurniawan secara langsung, maka secara jujur saya katakan jika ketika itu saya dalam keadaan yg sangat gugup. Sebentar lagi saya akan bertemu dengan seseorang yg selama ini sangat saya kagumi dan hanya dapat saya lihat dari layar televisi. Rasa bangga, takut, deg-deg'an, grogi serta malu bercampur aduk menjadi satu. Bahkan, walaupun ketika itu saya baru saja selesai mandi, akan tetapi baju saya mulai basah oleh keringat yg keluar secara perlahan melalui pori-pori kulit di sekujur tubuh saya...
Jarak kamar saya dengan kamar Kurniawan tidaklah begitu jauh, kami hanya terpisah kurang lebih 4 kamar saja. Sejujurnya, hati saya sempat ragu saat melangkah menuju kamar idola saya tersebut, akan tetapi karena rasa penasaran dan bangga yg begitu tinggi, dan juga di topang oleh sebuah etika wajib lapor kepada senior, maka sayapun membuang jauh-jauh rasa ragu tersebut itu dan mempertegas langkah saya menuju kamar senior saya itu...
Sesampainya di kamar Kurniawan, saya sempat menempelkan telinga saya ke daun pintu kamar sebelum mengetuk pintu kamar berwarna coklat tua tersebut. Hal itu saya lakukan untuk memastikan jika memang sudah terjadi aktivitas di kamar tersebut. Tentu saja saya tidak ingin kedatangan saya nantinya akan mengganggu aktivitas si empunya kamar. Karena jika hal tersebut terjadi, tentu akan meninggalkan kesan negatif di awal pertemuan saya dengan idola saya...
Saat saya sudah dapat memastika jika si penghuni kamar sudah bangun, maka sayapun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Dari balik pintu terdengar suara langkah kaki seseorang yg tengah berjalan mendekat, seketika detak jantung sayapun berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan ketika pintu kamar hotel itu terbuka, nampaklah seseorang dengan perawakan sedikit lebih tinggi dari saya akan tetapi juga sedikit lebih kurus dengan model rambut yg cepak cederung botak...
Orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Kurniawan Dwi Julianto, orang yg sangat saya kagumi dan selama ini hanya dapat saya lihat melalui layar kaca televisi. Melihat kedatangan saya, Kurniawan seketika berkata "Eh nembe teko yo, piye kabare..?? ayo kene mlebu" (Eh baru sampai ya, apa kabar..?? Mari sini masuk". Saat itu saya sempat terpaku sejenak sebelum akhirnya menjawab "Alhamdulillah apik mas, iyo iki nembe teko", (Alhamdulillah baik mas, iya ini baru saja sampai". Saya butuh beberapa saat untuk mengendalikan diri, dan ketika saya sudah tenang sayapun berjalan memasuki kamar tersebut...
Saat saya memasuki kamar tersebut, terlihat Rochy Putiray tengah merebahkan diri di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Sayapun segera menghampiri nya untuk bersalaman sambil memperkenalkan diri saya. Di kamar ini sendiri tidak nampak sebuah televisi, iya saat itu kami memang mendapatkan jatah kamar khusus untuk atlit, yg tidak terdapat televisi di dalam kamar. Sehingga jika kami ingin melihat televisi, maka kami harus pergi ke aula untuk berbagi 1 televisi dengan atlit-atlit dari cabang olahraga yg lain..
Saat itu terjadilah percakapan ringan antara saya dan idola saya tersebut. Sebuah percakapan yg dalam versi aslinya terjadi dengan menggunakan bahasa jawa. Akan tetapi karena saat menulis artikel ini saya tengah berbaik hati, maka akan saya terjemahkan percakapan tersebut ke dalam bahasa Indonesia, agar dapat anda sakalian pahami maksud dan artinya hehehe...
Percakapan tersebut kurang lebihnya berisi seperti di bawah ini:
Kurniawan: Ayo duduk sini, kapan sampai..??
Saya: Baru saja mas jam 5:30 an, kemarin berangkat dari Salatiga jam 5 sore (Perjalanan menggunakan bus malam)..
Kurniawan: Ooooo, sekamar sama siapa..??
Saya: Sekamar saya Ali Sunan, Agung Setyabudhi dan I Komang Putra mas. Tapi mereka pada belum datang, mungkin nanti siangan baru masuk. Oh iya mas dapat salam dari Mas Hariyadi (Sekarang pelatih Persiba Balikpapan) dan Om John Ozok (Keduanya adalah pelatih Diklat Salatiga dan juga pernah melatih Kurniawan saat masih di sana)..
Kurniawan: Oh iya-iya, apa kabar mereka..?? Masih galak ngga mereka..?? hahaha..
Saya: Ya lumayan lah mas hehehe.. Ngomong-ngomong suasana latihan di timnas senior itu gimana ya mas..?? saya kok masih grogi dan sedikit takut dan sungan ya mas..
Kurniawan: Kenapa takut..?? Sama sajalah seperti latihan tim-tim biasa, apalagi kamu kan sudah pernah bekerja sama dengan Bernard Schoem di tim U-19 dan U-23. Tapi kalo main di timnas senior ada peraturan-peraturan yg harus di taati. Diantaranya rambut harus rapih, jangan seperti sekarang awut-awutan gitu, karena kita kan membela nama negara...
Ketika itu rambut saya memang cukup gondrong dan awut-awutan. Tipe asli rambut saya sendiri memang keriting, sehingga jika sudah mulai memanjang maka rambut saya akan mengembang keatas. Eehhmm,, mungkin mirip seperti rambut Edi Brokoli namun dalam versi yg sedikit lebih pendek tentunya..
Saya: Oh gitu ya mas, kalo begitu nanti siang saya akan potong rambut..
Kurniawan: Satu lagi, di tim pra olimpiade kan kamu pakai nomer 10, jadi kalo misalnya kamu mau pakai nomer 10 di timnas senior pakai saja, nanti aku akan cari nomer lain...
Saat itu tiba-tiba Rochy Putiray menyaut, "Udah pakai aja mbang, ngga usah malu dan ragu Kurniawan udah abis hahaha", celetuknya sabil tertawa kecil (Tentu sembari bercanda). Mendengar perkataan tersebut, sayapun segera menjawab dengan sedikit tersipu..
Saya: Oh ngga mas terima kasih, itu kan sudah menjadi ciri sampeyan, saya sih pakai nomer berapa saja ngga masalah. Lagipula saya kan baru ikut seleksi, lolos juga belom tentu hehehe..
Kurniawan: Pokoknya jangan sungkan-sungkan di timnas senior ya, anggap saja semua pemain sama. Kamu di panggil pasti karena pelatih berpikir kamu juga mempunyai kelebihan, jadi jangan merasa rendah diri disini..
Saya: Iya mas terima kasih. Yasudah mas saya pamit dulu mau istirahat..
Dan sayapun kembali bersalaman dengan Kurniawan dan jua Rochy Putiray sebelum akhirnya saya meninggalkan kamar tersebut...
Siang itu juga saya memutuskan untuk memotong rambut saya, tempat potong rambut paling dekat dari Hotel Century adalah Plaza Senayan. Ketika itu saya memangkas rambut saya di sebuah salon bernama Johny Andrean. Sejujurnya sangat berat bagi saya untuk memotong rambut saya ketika itu. Karena sebenarnya, saat itu saya sedang dalam tahap untuk memanjangkan rambut saya, agar dapat saya ikat dengan model cornrows (Terinspirasi dengan gaya rambut Hendrik Larson)...
Akan tetapi mengingat ini adalah salah satu aturan di tim nasional senior (Menurut Kurniawan Dwi Julianto), maka rambut yg sebenarnya sudah saya biarkan panjang selama kurang lebih 3 bulan itu, akhirnya dengan sedikit berat hati harus saya relakan untuk dipangkas. Tidak sampai habis memang, akan tetapi setidaknya menjadi jauh lebih pendek dan rapi...
Sore itu adalah latihan pertama tim nasional yg di persiapkan untuk Sea Games 1999 di Brunei Darussalam. Sebuah sore yg akan selalu saya kenang dalam hidup saya. Iya, sebuah sore dimana menjadi saat pertama kalinya saya berlatih bersama squad utama tim nasional Indonesia (Senior). Saat dimana saya berkesempatan berlatih dalam satu lapangan, serta di bawah satu pelatih kepala bersama pemain-pemain kelas satu di negeri ini...
Ketika itu di Gelora Bung Karno, saya berlatih bersama pemain-pemain seperti Hendro Kartiko, Anang Ma'ruf, Aji Santoso, Alm Eri Irianto, Kurnia Sandi, Widodo C. Putra, Bima Sakti dan tentu saja Kurniawan Dwi Julianto. Mereka adalah pemain-pemain yg selama ini hanya dapat saya liat dan saksikan melalui layar kaca televisi. Bayangkan, saya baru masuk Diklat Sepakbola Salatiga pada th 1996, dan 3 th kemudian saya sudah mampu menjadi bagian dalam tim nasional Indonesia senior. Tentu ini adalah sebuah impian yg menjadi kenyataan...
Pada perkembangannya, saya baru tahu jika ternyata Kurniawan berbohong kapada saya mengenai peraturan di tim nasional senior dalam hal rambut. Karena memang tidak ada peraturan yg mengatakan, jika seorang pemain nasional harus berambut pendek dan rapi. Awalnya saya cukup keki dengan kenyataan tersebut, akan tetapi ya sudahlah mungkin maksud Kurniawan sendiri sebenarnya baik, agar penampilan saya lebih rapi dan tidak kampungan hehehe. Lagipula di jahilin oleh seorang idola tentu malah akan menjadi sebuah cerita yg pantas untuk di kenang..
Satu hal yg sangat saya sayangkan ketika itu adalah, pada akhirnya Kurniawan harus terlempar dari tim dan tidak berangkat ke Sea Games di Brunei. Saat itu hanya tersisa Widodo C Putra, Rochy Putiray dan saya di barisan depan tim nasional Indonesia. Ketiadaan Kurniawan sendiri, seharusnya membuat saya mendapat kesempatan untuk menggunakan nomer punggung 10 di tim nasional, sama seperti saat saya bermain untuk tim nasional pra olimpiade. Akan tetapi setelah berpikir dengan matang, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan nomer punggung yg lain, sehingga saat itu nomer punggung 10 tidak di pakai oleh siapapun..
Saya memilih nomer lain dengan beberapa alasan. Pertama, karena saya sangat menghormati orang yg selama ini menjadi pemilik nomer tersebut (Kurniawan Dwi Julianto). Kedua, karena saya ingin memiliki sebuah nomer yg identik dengan nama saya, seperti halnya nomer 10 yg identik dengan Kurniawan, atau identikya nomer 7 dengan nama Widodo C Putra. Maka dari itu akhirnya sayapun memilih nomer punggung 20 untuk saya kenakan. Kebetulan nomer tersebut tengah tak berpemilik, karena di tinggalkan Hendro Kartiko yg berganti ke Nomer 1 setelah Kurnia Sandi (Pemilik nomer 1) harus terseingkir karena mengalami patah kaki dalam sebuah sesi latihan...
Saya sendiri memilih nomer 20 bukan tanpa alasan dan tujuan. Alasan saya ketika itu adalah, saya ingin menggunakan sebuah nomer yg unik atau fidak lazim di gunakan oleh seorang striker. Dan angka 20 cukup mewakili akan hal itu, karena nomer tersebut memang lazimnya di gunakan oleh seorang penjaga gawang (Pada masa itu). Kemudian alasan berikutnya serta mungkin yg paling penting adalah, sebuah filosofi karangan saya di balik nomer 20 itu sendiri..
Yaitu, jika dalam sebuah mata pelajaran maka nilai 10 akan berarti istimewa. Dan jika angka 10 berarti istimewa, maka dari itu angka 20 juga dapat diartikan sebagai 2 x 10 atau 2 x istimewa hehehe. Jadi diharapkan dengan menggunakan nomer tersebut, di masa yg akan datang prestasi saya dapat melebihi si pemilik nomer 10 ( Kurniawan Dwi Julianto) atau setidaknya menyamai prestasi idola saya tersebut...
Agak terkesan arogan memang, akan tetapi sejujurnya filosofi tersebut saya buat untuk menantang, memotivasi serta sekaligus menjadi target saya dalam menjalani karir di dunia sepakbola. Dengan begitu, saya selalu mempunyai motivasi tinggi dalam menjalani karir saya, dalam apapun kendalanya. Dan tak terasa ternyata 12 th sudah saya menggunakan nomer punggung 20 dalam setiap pertandingan saya. Saya hanya sempat menggunakan nomer lain saat bermain di EHC Norad, ketika itu saya menggunakan nomer punggung 9..
Nomer punggung 20 selalu setia menemani saya dalam mengejar mimpi-mimpi saya sampai dengan saat ini. Saya mengalami banyak sekali kejadian-kejadian dalam karir sepakbola saya, baik yg menyenangkan maupun menyedihkan bersama dengan nomer punggung ini. Menjadi juara, pencetak gol terbanyak, pemain terbaik, patah kaki, depresi, memecahkan rekor gol tim nasional dan caps tim nasional, menaklukkan Malaysia bersama Selangor FC dan lain-lain adalah hasil kolaborasi saya bersama nomer punggung tersebut...
Seperti yg anda sekalian ketahui, saya adalah pribadi yg tidak pernah berhenti bermimpi. Sejauh ini saya sudah mampu mewujudkan beberapa diantara mimpi-mimpi tersebut. Akan tetapi memang masih banyak juga diantaranya yg belum dapat terwujud. Salah satu diantaranya mungkin mimpi untuk memberikan gelar untuk tim nasional Indonesia. Jika saya masih dipercaya dan diberi kehormatan oleh pelatih tim nasional untuk mengenakan seragam tim nasional Indonesia, maka sudah barang tentu saya akan terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi tersebut, dan saya sendiri berharap masih memiliki kesempatan tersebut...
Sebagai manusia, kita tidak akan pernah tahu apa yg akan terjadi di masa yg akan datang. Sejatinya hal terpenting dalam sebuah kehidupan adalah, bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin dalam setiap kesempatan, menjalani dengan sepenuh hati dan menerima apapun yg terjadi dengan ihklas dan lapang dada...
"Kita boleh saja tidak memiliki kompas ataupun peta. Akan tetapi, saya yakin jika kita semua diberi anugerah oleh sang pencipta sebuah hati, yg dapat digunakan untuk menentukan mana kira-kira arah yg tepat dan pantas untuk kita tuju"
Oleh karena itu, jangan pernah takut dan berhenti bermimpi, karena hal tersebut tidak akan pernah membuat kita tersesat...
Selesai...

Image - Photos

Pengalamanku bermin bola plastik bersama anak-anakdi kampung halaman. NGAWI.

Saat pertama memakai kostum PERSEGA.
Saat Juara 2 FESTIVAL FUTSAL SMPN 1 WATES.

Senin, 10 Oktober 2011

Nomor Punggung

Saya akan sedikit memberi tau berapa saja nomor punggung yang pernah saya kenakan ..
POSTINGAN GAJELAS HAHAHA...

1. 3 : Saat aku mengikuti O2SN tahun 2009, saya dan teman teman mewakili Kabupaten Kulonprogo, Nomor punggung yang aku pakai adalah 3. Saat itu saya adalah pemain panggilan(SOMBONG). Dulu, waktu itu saya suka dengan nomor punggung 10. Jika aku memintanya dari teman se-tim yang berasal dari Kecamatan Galur, Aku merasa gag enak saja. Terpaksa pakai nomor 3 yang belum ada yang memakai.
2. 7 : Saat itu aku juga mengikuti O2SN yang pada tahun 2008 namanya adalah PORSENI. Saya juga mewakili Kulonprogo diajang Sepakbola Mini PORSENI itu. Saya memakai nomor 7. Alasannya, 10 dipakai sang kapten. Haha . Aku juga merasa gag enak kalau memintanya. Karena, Aku disitu jadi pemain termuda. Mereka umurnya diatasku. Aku tidak berani memintanya hehehehe...
3. 2 : Saat ini, aku mengikuti HW wates. Pakai nomor punggung 10. sudah 5 tahun terpakai, Bajunya sudah jadi kecil. Dikabari Sang pelatih Kastono, ada pertandingan sparing. Lalu, aku pinjem baju punya teman dekat saya, JOHAN. Dia memakai nomor 2. Saat itu, dia sudah jarang ikut latihan. Ya udah, bajunya tak pinjem aja hahahaha....
4. 69 : Nomor ini juga saya sangat suka. Nomor ini unik. Nomor ini saya gunakan pada Kaos tim Futsal Kota Gadingan hahaha.
5. 10 : Nomor satu ini yang sangat dan paling saya suka. Dari kelas 3 SD, awal saya masuk SSB, saya sudah memakai nomor ini. Di Jakarta saat saya dan teman teman saya mewakili DIY di O2SN Tingkat Nasional Saya juga memakai nomor ini. Alhamdulillah saat pakai Jersey yang warnanya merah dan berarti semangat, Juga bertuliskan DIY yang berada di dada, juga nomor 10 di punggung saya bisa memasukkan bola ke gawang JAWA TIMUR  walaupun tetap tertinggal 2-1.


Sekian Terimakasih ... :D

Kamis, 29 September 2011

Warna Bendera Dan Lambang Garuda Itu Tidak Akan Pernah Berubah Sampai Kapanpun

Artikel ini sengaja saya copy dari Bambang Pamungkas :[Official Website]: sebagai inspirasiku..
Tetapi Tidak Semuanya.. Melihat Judulnya saya sudah terinspirasi dan sadar akan tanah airku..Dan aku siap membela tanah airku di dunia bola..
Kita Mulai..

Penulis: bepe, 16 July 2011
Siang ini saya terbaring lelah di atas tempat tidur, udara sejuk dari AC kamar hotel tempat kami (Tim nasional) melakukan pemusatan latihan membuat mata saya terasa berat. Hari pertama latihan tim nasional memang akan selalu terasa sedikit kaku dan tegang, hal tersebut karena memang hadirnya beberapa pemain baru biasanya akan membuat pemain-pemain tersebut sedikit sungkan, akan tetapi biasanya pada hari kedua dan selanjutnya semuanya akan mencair dan melebur menjadi sebuah kesatuan..
Beberapa minggu terakhir, perhatian insan sepakbola kita sedikit banyak tertuju kepada beberapa hal penting yg menjadi agenda PSSI. Perhatian terbesar tentu saja tertuju kepada kongres PSSI yg memang sudah sangat ditunggu-tunggu hasilnya oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dan harus kita syukuri dan beri apresiasi yg luar biasa, karena kongres itu sendiri berhasil dilaksanakan dengan lancar dan menghasilkan ketua PSSI dan anggota exco yg baru. Hal tersebut disamping berhasil menghindarkan Indonesia dari sanksi FIFA, tentu juga diharapkan akan mampu membawa dunia persepakbolaan Indonesia lebih baik lagi dimasa yg akan datang..
Terlepas dari segala kritik yg datang silih berganti kepada ketua umum dan anggota exco terpilih, maka sudah selayaknya jika kita hargai dan beri apresiasi yg baik dengan mendukung mereka. Karena menurut saya, maju mundurnya organisasi tertua di republik ini tersebut tegantung kinerja dari manusia-manusia terpilih tersebut. Dan seperti yg kita sama-sama tahu, jika mengurus sepakbola Indonesia ini bukanlah hal yg mudah, maka sudah selayaknya jika mereka mendapatkan dukungan dari semua pihak yg merasa memiliki dan mencintai persepakbolaan Indonesia..
Beberapa hari yg lalu tepatnya tgl 13 Juli 2011, di saat masyarakat Indonesia sudah mulai terlihat tenang dengan gejolak yg selama ini terjadi, tiba-tiba terbit sebuah keputusan yg sangat mengejutkan, yaitu pemecatan pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl oleh ketua PSSI yg baru. Sontak hal tersebut memantik opini publik yg sangat beragam, banyak sekali masyarakat yg menyayangkan keputusan tersebut, akan tetapi tidak sedikit juga yg memuji pengurus PSSI yg baru karena berani mengambil sikap tersebut..
Saya sendiri mengetahui perihal pemecatan tersebut dari salah satu staff tim nasional melalui BBM, sesaat setelah saya mendarat di bandara Soekarno Hatta dari Pangkal Pinang. Beberapa hari sebelumnya posisi saya memang tengah berada di Pangkal Pinang bersama tim Persija Jakarta, saya terbang ke Jakarta sehari lebih cepat dari jadwal tim guna menepati panggilan tim nasional bersama 4 anggota tim yg lain, yaitu Pak Rahmad Darmawan, M. Nasuha, M. lham dan Tony Sucipto..
Ternyata saat kami masih berada di pesawat, ketua PSSI yg baru Djohar Arifin Husin mengadakan konferensi pers untuk menyampaikan pemecatan Alfred Riedl secara resmi. Saya sendiri sejujurnya tidak begitu kaget dengan hal tersebut, karena memang dalam beberapa hari terakhir rumor akan adanya pergantian pelatih sudah cukup santernya terdengar. Tidak begitu kaget bukan berarti hati saya dapat menerima begitu saja pemecatan tersebut. Karena menurut hemat saya, susah rasanya menemukan alasan yg kuat mengapa pengurus baru perlu melakukan hal tersebut. Dalam dunia sepakbola profesional, pergantian pelatih secara mendadak adalah sesuatu yg sangat wajar, akan tetapi terkadang alasan-alasan dari pemecatan tersebut yg terkadang sedikit susah untuk diterima oleh akal sehat..
Secara pribadi saya tidak ingin mengomentari kualitas teknis dari seorang Alfred Riedl dalam menangani tim, karena setiap pelatih akan selalu mempunyai sisi positif maupun negatifnya masing-masing. Lebih dari itu, hal tersebut jelas di luar kapasitas profesional saya sebagai seorang pemain..
Oleh karena itu dibawahnya ini, saya ingin menanggalkan status saya sebagai pemain tim nasional Indonesia dan ingin menyampaikan pendapat saya sebagai salah satu pendukung sejati tim nasional Indonesia, layaknya masyarakat kebanyakan diluar sana. Untuk menilai sukses atau tidaknya seorang pelatih menangani tim, tentu tergantung dari kriteria apa yg digunakan oleh setiap pihak dalam menilainya. Sebagai supporter yg anggap saja saya tidak pernah merasakan bagaimana dilatih oleh seorang Alfred Riedl, maka saya akan menilai kinerja seorang pelatih dari hal-hal dasar seperti layaknya orang awam.
Dari segi hasil, tentu Alfred tidak dapat dikatakan gagal walaupun memang menjadi runner up juga bukanlah menjadi sesuatu yg luar biasa. Karena menjadi runner up bukanlah hal yg baru untuk negara kita, akan tetapi mengingat target yg dibebankan pengurus PSSI (Ketika itu) memang menjadi finalis, maka dapat dikatakan Alfred mampu mencapai target yg telah ditentukan..
Dari segi pembentukan tim, Alfred juga berani melakukan perombakan yg dapat dikatakan besar-besaran pada tubuh tim nasional. Meninggalkan nama-nama yg selama ini menjadi tulang punggung tim nasional seperti Ponaryo Astaman, Charis Yulianto, Ismed Sofyan, Budhi Sudharsono, Hariyono, Saktiawan Sinaga untuk memberi kesempatan kepada muka-muka baru yg tentunya juga lebih muda dan segar..
Alfred juga dengan berani mengetepikan striker terbaik Indonesia Boaz Sallosa dengan alasan indisipliner. Belom lagi keputusannya untuk mencopot ban kapten Bambang Pamungkas dan menyerahkannya kepada Firman Utina, serta mendudukkan pemain tersebut di bangku cadangan karena alasan kalah bersaing dengan striker yg lain. Hal tersebut secara tidak langsung berarti Alfred telah berlaku fair dalam menilai kemampuan serta memberi kesempatan yg sama bagi setiap pemain tim nasional..
Satu hal yg  penting, Alfred berani mengambil keputusan-keputusan penting  guna melakukan regenerasi  dan menjaga kesinambungan tim yg selama ini terasa mandek di dalam tubuh tim nasional. Jika kita cermati berapa banyak pemain yg mengecap debut tim nasionalnya bersama Alfred Riedl. Sebut saja, Zulkifly Sukur, Ahmad Bustomi, Beny Wahyudi, Cristian Gonzales, Irfan Bachdim, Yongki Aribowo, Okto Maniani, Muhammad Nasuha, Yesayas Desnam, Toni Sucipto, Johan Juansyah dan juga Kurnia Meiga. Bahkan boleh dikatakan jika pemain-pemain muda tersebut diatas adalah kerangka utama dari tim nasional saat ini..
Sedangkan dilihat dari penampilan tim secara keseluruhan, saya rasa antusiasme masyarakat yg sangat luar biasa kepada tim nasional Indonesia selama Piala AFF 2010 digelar, sedikit banyak dapat menjadi gambaran bahwasanya tim tersebut tampil cukup baik atau setidaknya dapat memenuhi harapan masyarakat. Hal-hal tersebut diatas membuat saya yg dalam hal ini berbicara sebagai salah satu pendukung merah-putih, merasa tidak dapat menemukan sesuatu yg layak untuk mendasari pemecatan seorang Alfred Riedl..
Beberapa hari yg lalu tepatnya sesaat setelah Alfred resmi dipecat, salah satu sahabat saya yg bernama Abi Hasantoso melalui akun twitternya @TheReal_Abi_LPI, sempat menulis beberapa hal yg dia rangkum dengan judul "Pelajaran dari dipecatnya Alfred Riedl". Pada poin ke lima dari rangkuman tweet tersebut tertulis sebagai berikut..
"Pelajaran 5 dari dipecatnya Alfred Riedl: Jangan pernah mendiskriminasi dan merendahkan para pemain LPI - Itu yang paling penting! #Riedl"..
Tweet dari saudara Abi yg dalam hal ini menjabat sebagai juru bicara LPI tersebut sontak menggiring opini masyarakat, bahwasanya "MUNGKIN" alasan sebenarnya yg mendasari pemecatan tersebut adalah karena Alfred tidak memanggil pemain-pemain LPI ke dalam tim nasional. Kalimat "Itu yang paling penting" diakhir tweet tersebut yg membuat masyarakat berpikir demikian. Mengenai benar atau tidaknya dugaan masyarakat tersebut, tentu hanya saudara Abi Hasantoso yg dapat menjawab hal tersebut..
Sedangkan secara resmi PSSI sendiri menyatakan, jika pemecatan Alfred dikarenakan kontrak kerjasama Alfred dibuat bukan atara institusi PSSI dengan Alfred Riedl, melainkan antara wakil ketua umum sebelumnya Nirwana Bakrie dengan Alfred Riedl secara pribadi. Dan hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan etika organisasi. Kita semua memang masih mereka-reka apa kira-kira sebenarnya yg tengah terjadi, akan tetapi jika masyarakat memiliki opini yg terbentuk berdasarkan Tweet saudara Abi pada tgl 13/07/2011 pukul 17:17 WIB tersebut, tentu juga tidak dapat dikatakan salah..
Dibawahnya ini saya kembali berbicara atas nama Bambang Pamungkas sebagai pemain tim nasional Indonesia.. Malam setelah Alfred resmi diberhentikan, saya menyempatkan diri untuk menghubungi pelatih saya tersebut melalui telephon. Sebelum berbicara kepada Alfred saya terlebih dulu berbicara kepada Wolfgang Pikal, saya juga sempat menghubungi Widodo Cahyono Putro akan tetapi sayang telephon seluler mas Wid tidak dapat dihubungi.. Saat saya berbicara Riedl jam menunjukkan pukul 22:53 malam, kami berbicara panjang lebar dalam waktu kurang lebih 15 menit. Pembicaran kami berkisar antara keadaan tim nasional saat ini, dan sejujurnya saya katakan jika kami sama-sama kecewa dengan keadaan yg berkembang..
Salah satu ucapan saya ketika itu adalah"Atas nama pribadi, pemain timnas Indonesia dan juga seluruh masyarakat sepakbola Indonesia yg sempat merasakan kebanggaan dan kebahagiaan ketika Piala AFF 2010 kemarin digelar. Saya mengucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya kepada anda, juga sekaligus permohonan maaf yg sebesar-besarnyas situasi yg terjadi saat ini"..
Dan Alfred Riedl pun menjawab demikian: "Terima kasih Bambang atas dukungannya, sampaikan salam saya untuk seluruh pemain. Kita semua adalah orang-orang profesional, dan hal semacam ini dapat terjadi kapan saja. Pesan saya kepada kalian semua, siapapun pelatihnya, staff pelatihnya dan pengurusnya, kalian semua harus tetap mempunyai komitmen dan kerja keras yg sama. Karena pelatih, staff pelatih dan pengurus PSSI dapat berganti kapan saja, akan terapi warna jersey dan emblem tim nasional tidak akan pernah berubah. Dan kalian semua harus tetap berjuang dengan gigih untuk Merah-Putih, Lambang Garuda dan juga seluruh rakyat Indonesia yg selama ini mendukung kalian"
Sesaat setelah saya menutup telephon, tanpa saya sadari mata sedikit berkaca-kaca. Seperti yg saya kemukakan di awal tulisan ini, bahwa dalam dunia sepakbola profesional pergantian pelatih secara mendadak bukanlah hal yg aneh dan mengagetkan, akan tetapi entah mengapa saya merasa situasi ini terasa tidak begitu adil bagi seorang Alfred Riedl..
Terlepas dari itu semua, secara pribadi saya yakin jika setiap pelatih baru akan selalu membawa hal-hal baru yg tentunya juga positif, akan tetapi sudah selayaknya jika pelatih lama juga mendapatkan apresiasi yg baik. Bagi kami para pemain, siapapun pelatih dan pengurus PSSI nya tugas kami tidak pernah berubah, yaitu berjibaku dilapangan. Seperti yg dahulu pernah saya kemukakan, bahwa "Tidak semua pemain mengerti mengenai masalah organisasi, begitu juga sebaliknya. Tidak semua pengurus mengerti bagaimana cara bermain sepakbola". Hal tersebut kurang lebih berarti, bahwa mari kita pisahkan hal-hal keorganisasian dengan hal-hal dilapangan. Memberi opini tentu saja boleh dan sah-sah saja, akan tetapi mari sebisa mungkin kita hindarkan untuk saling menghakimi.
"PEMAIN, PELATIH DAN PENGURUS PSSI DAPAT BERGANTI KAPAN SAJA, AKAN TETAPI WARNA BENDERA DAN LAMBANG GARUDA ITU TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH SAMPAI KAPANPUN"..
Dengan siapapun pelatih yg menangani tim nasional nanti, kami para pemain akan tetap berjuang sepenuh hati dalam membawa nama Indonesia. Dan dapat saya pastikan, jika siapapun pemainnya yg nanti diberi kehormatan untuk bermain dalam babak kualifikasi piala dunia melawan Turkmenistan, akan bermain seratus persen dan akan berusaha memberikan hal terbaik yg mereka mampu untuk tim nasional.. Akhir sekali atas nama pribadi sebagai salah satu pemain tim nasional Indonesia dan juga sebagai seorang pendukung sejati tim Merah-Putih, saya berpendapat dengan jujur bahwa:
"Sebagai Seseorang Yang Sedikit Banyak Pernah Memberikan Kebanggaan Dan Kebahagiaan Bagi Persepakbolaan Idonesia, Rasanya Alfred Riedl Layak Mendapatkan Perlakuan Lebih Baik Dari Apa Yang Terjadi Saat Ini"..

Selasa, 27 September 2011

Dari Gugus Ke tingkat Nasional

Sedikit cerita tentang kenanganku dulu dalam dunia sepak bola...

Pada Tahun 2008 aku disuruh guru olahraga SD ku mengikuti seleksi Porseni (sekarang O2SN). Seleksinya berada di Lapangan Bendungan. Beratus-ratus orang mengikuti seleksi itu. Dengan rasa deg-degan dan sedikit berpikir " Piye yo ? Aku iso katut(keterima) ra yo? ". Setelah merasa lelah mengikuti seleksi itu, pengumuman pun dibacakan. Dengan merasa senang, aku akhirnya diterima untuk menjadi squad tim Kecamatan Wates. Jika masih ingat, dulu pemainnya adalah Aku, Guruh, Wisnu, Bayu, Taufik, Yusuf dan lain lain. Lainnya lupa hehehe .. Kira kira 3-4 berselang, pertandingan antar Kecamatan pun dimulai. Setelah beberapa pertandingan dilakukan, akhirnya pertandingan final pun dimulai. Dengan merasa menyesal, kami satu tim sempat ketinggalan 0-1. Setelah ketertinggalan itu, aku pun mempunyai ambisi untuk memasukan bola ke gawang galur, musuh kita di babak final. Ambisiku itupun terjawab, Di babak ke-dua aku bisa memasukan bola ke gawang musuh. Kata orang-orang, gol itu dikatakan sangat bagus. Karena apa, karena gol itu diluar kotak penalty dan menggunakan kaki kiri. Saat itu aku belum fasih menendang menggunakan kaki kiri. Gol balasanku itu membangkitkan semangat teman satu timku. Seling beberapa menit, Yusuf memasukan bola ke gawang musuh secara tidak sengaja. Mengapa tidak sengaja? Karena pemain belakang Galur membuang bola tapi bole ter-blok oleh Yusuf dan bola mengarah ke gawang musuh dan saat itu kiper sedang maju ke depan. Kami senang sewaktu Peluit tanda berakhirnya pertandingan selesai dibunyikan. Sampai-sampai aku menangis karena kemenangan itu. Yeaahhh..

Setelah beberapa hari ada pengumuman lagi jika aku masuk tim Kabupaten Kulonprogo untuk bertanding di tingkat Provinsi.Tetapi, Kita mendapatkan Juara 4 waktu itu dan mendapatkan Perunggu dan uang saku 50.000 dari pelatih kita.

Di Tahun 2009 dapat pengalaman yang sama tetapi lebih mengesankan. Di O2SN 2009 Kabupaten Kulonprogo mendapatkan Juara 2. Kami mendapatkan piala dan uang saku dari Dinas Pendidikan Provinsi Sekitar 500.000. Lebih mengesankan lagi aku mendapat kabar jika aku masuk tim sepakbola mini Provinsi DIY. Itu tandanya aku melaju ketingkat NASIONAL. Tapi ada halangan menimpaku. Kakiku sakit tergigit hewan. Terpaksa waktu itu aku tidak mengikuti latihan selama sekitar 4 hari. Karena itu Aku dibangku cadangkan oleh pelatih. Sedikit menyesal tapi juga gembira. Pertandingan pertama dimulai. Aku duduk di bench menonton pertandingan. Dan akhirnya aku dimainkan. Tetapi sekitar 10 menit aku diganti. Akupun merasa kecewa. Kata sang pelatih permainanku kurang bagus dan kurang beradaptasi dengan teman satu tim. Menurutku juga begitu. Akhirnya pertandingan melawan Sumatera Barat selesai. Hasilnya seri, 1-1. Pertandingan kedua melawan Jawa Timur pun dimulai. Kembali, aku masih di bangku cadangan. Tetapi, saat aku dimainkan, permainanku tambah bagus. Hasilnya aku memasukan 1 gol setelah tertinggal 2-0.  Tetapi golku itu tidak membangkitkan semangat teman-temanku. Hasilnya tetap.1-2 kami kalah. Tetapi, kita tetap merasa senang karena bangga bisa mewakili Provinsi DIY dan membawa nama DIY ke tingkat nasional.


Sekian cerita dariku..Mungkin ceritaku ini bisa membuat inspirasi kalian untuk bisa lebih kerja keras untuk meraih cita-cita..Dan membuat bangga semuanya..Kerabat kita .. ;)

Rabu, 21 September 2011

SPEC HITAM HIJAU : SEPATU PERTAMAKU

Sudah tau kan teman hobi ku itu apa ? "SEPAKBOLA"
Nah aku akan sedikit menceritakan tentang awalmula aku mendapatkan sepatu bolaku waktu kecil dulu.

Dulu sewaktu kecil, aku selalu ikut temen temenku maen bola di lapangan bulutangkis yang kecil. walaupun temen temenku itu sudah besar besar, aku tetap mengikuti permainan itu. mulai dari itulah hobiku sudah terpikirkan. Aku dengar dari teman, tim PERSEGA, tim sepakbola di desaku akan mengadakan latihan untuk anak anak di Gadingan. Aku langsung pulang dan langsung bercerita kepada bapak saya. sedikit percakapan di dalam cerita ini dengan bahasa jawa...
Aku...: Pak Pak , jarene kancaku arep ono bal balan'e..Tukokke sepatu yo pak !!
Bapak: Bal balan endi ?
Aku...: PERSEGA pak , tapi sing cilik cilik !
Bapak: Yo sesuk yo..

Setelah aku tunggu hari demi hari aku, aku diajak bapak ke toko sepatu di pasar. Dalam hati terasa senang, sebentar lagi akan latihan. Tetapi, apa yang terjadi?? Bapak justru membeli sepatu untuk diri sendiri. Sepatu Badminton. Aku sempat menangis. Sempat memohon pada bapak untuk membelikanku sepatu itu. Setelah bapak membelikan sepatu itu, Sepatu yang ber merk Spec berwarna hitam hijau dan bergambar bola, aku merasa senang. Tetapi juga merasa tidak enak sama bapak. Bapak tidak jadi membeli sepatu badminton itu. Teteapi bapak membeli sepatu badminton yg sama dengan sepatu yang dulu.

Begitulah ceritanya..Akan ada cerita selanjutnya setelah aku mendapatkan SEPATU SPEC HITAM HIJAU ini ..